Hujan, Paria, dan Kresek

Meskipun dikenal sebagai salah satu jenis sayuran yang mudah dibudidayakan di segala musim, bercocok tanam paria di musim penghujan tidak jarang disertai munculnya kendala penyakit yang berdampak pada hasil akhir yang diperoleh petani. Salah satunya adalah serangan kresek atau embun bulu yang pada intensitas serangan parah bisa menyebabkan gagal panen.

Tanaman paria atau dalam bahasa latinnya dikenal dengan nama Momordica charantia L. menjadi salah satu sayuran semusim yang sangat mudah dibudidayakan, karena tidak memerlukan persyaratan khusus untuk mendapatkan hasil panenan yang optimal.

Meskipun dikenal sebagai tanaman semak yang ‘bandel’ dan mudah tumbuh di segala musim, namun bercocok tanam paria di musim-musim tertentu juga tetap memerlukan perhatian agar terhindar dari resiko kerugian akibat dari serangan hama maupun penyakit yang bisa saja berujung pada kegagalan panen.

Seperti halnya saat bercocok tanam paria di musim penghujan dengan tingkat kelembapan lingkungan tumbuh yang tinggi. Dalam kondisi seperti itu, resiko tanaman terserang penyakit yang dipicu patogen, khususnya jamur, cenderung lebih tinggi. Salah satunya adalah serangan kresek atau embun bulu atau downy mildew yang dipicu oleh infeksi jamur Psuedoperonospora spp..

Komoditas dengan ciri khas kulit buah yang berbentuk lelehan lilin dan rasa yang pahit ini jika terserang kresek akan menunjukkan gejala pada bagian daun yang mudah dikenali, yaitu munculnya bercak kuning di sepanjang tulang daun. Bercak tersebut biasanya mulai muncul pada bagian daun bawah atau daun yang sudah tua.

Spora jamur Psuedoperonospora spp. sendiri dapat dengan cepat menyebar melalui angin. Oleh karena itu, penyakit ini juga akan lebih mudah menyebar ke bagian tanaman lain yang belum terinfeksi. Umumnya, tanaman paria cenderung lebih rentan terserang saat berumur sekitar 4 minggu setelah tanam, dan hanya bagian daun saja yang diserang.

Pada tingkat serangan lebih lanjut, bercak kuning tersebut akan melebar dan berubah warna menjadi coklat di bagian tengahnya. Selanjutnya daun akan mengering dan mati. Jika diperhatikan, pada bagian bawah daun akan tampak bulu-bulu halus berwarna abu-abu yang merupakan miselium dari jamur Psuedoperonospora spp..

Lantaran bagian daun tanaman yang notabene merupakan ‘dapur’nya makanan bagi tanaman sudah mengering dan mati, maka proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman juga akan terganggu. Hingga pada akhirnya produktivitas tanaman menurun, bahkan hingga gagal panen.

Lebih aman dengan varietas yang tahan

Serangan kresek pada paria sebenarnya bisa diantisipasi dengan melakukan sanitasi lingkungan tumbuh tanaman itu sendiri, yaitu dengan menciptakan iklim mikro tanaman yang ‘tidak kondusif’ untuk tumbuh kembangnya jamur patogen. Misalnya dengan mengurangi tingkat kelembapan tanaman dan memperbaiki aerasi tanaman dengan mengatur jarak tanam yang tidak terlalu rapat dan melakukan perompesan daun untuk mengurangi kepadatan kanopi tanaman.

Daun yang sudah terserang kresek sebaiknya juga langsung dibuang dan dibakar atau ditanam di dalam tanah agar tidak menjadi sumber penyebaran penyakit. Di samping itu, selama musim hujan, saluran pembuangan air juga harus dipastikan berfungsi dengan baik agar tidak sampai menimbulkan genangan dan kondisi iklim mikro tanaman tetap terjaga dengan baik.

Penggunaan varietas paria yang tahan juga menjadi alternatif terbaik untuk mengantisipasi serangan kresek. Cara ini juga dinilai lebih murah, mudah, aman, dan efektif. Pasalnya, petani tidak perlu mengeluarkan biaya dan tenaga ekstra untuk melakukan penyemprotan pestisida untuk mengendalikan infeksi jamur.

Hingga saat ini sudah banyak varietas paria yang beredar di pasaran, namun tidak semuanya memiliki sifat ketahanan yang baik terhadap serangan patogen penyebab kresek. Beberapa varietas hibrida yang sudah teruji ketahanannya adalah Crown dan New Maya.

“Kalau Crown, selain terbukti tahan terhadap serangan kresek, varietas ini juga memiliki produktivitas yang lebih tinggi dibanding paria sejenis lainnya dan kuat ditanam di berbagai musim. Sehingga bisa lebih menguntungkan petani,” terang Dewi Ratnawati, pemulia tanaman paria PT BISI International, Tbk..

Sementara menurut Ali Mashari, Pesticide Product Development PT Multi Sarana Indotani, dalam kondisi cuaca yang tidak menentu, upaya pencegahan penyakit sejak dini juga penting dilakukan, yaitu dengan menggunakan fungisida yang tepat dan bijaksana.

“Fungisida kontak seperti Victory 80WP, Aurora 70WP, atau Centro 75WP yang dikombinasikan dengan fungisida sistemik seperti Demorf 500SC, Orion 50WP, atau Starmyl 25WP efektif untuk mencegah serangan kresek di musim hujan seperti sekarang ini,” terangnya.

Ali menambahkan, untuk pencegahan, penyemprotan fungisida tersebut sebaiknya dilakukan sejak dini dengan interval waktu seminggu sekali. “Jika belum ada gejala serangan, cukup disemprot dengan fungisida kontak sejak tanaman berumur seminggu setelah tanam. Apabila sudah menunjukkan gejala serangan, fungisida sistemik bisa ditambahkan untuk memberikan perlindungan ekstra bagi tanaman,” ujarnya.

Dalam kondisi cuaca ekstrim dan gejala serangan semakin parah, lanjut Ali, penyemprotan fungisida kontak dan sistemik bisa dilakukan lebih sering. “Tiga hari sekali,” katanya. (AT)

Baca juga :
Tiga Penyakit Cabai Kala Hujan
Mengatasi Kutu Sisik Pada Apel
Mengantisipasi Busuk Batang dan Busuk Pelepah Pada Jagung Manis
Pencampuran Insektisida yang Tepat
Crumble 100 EC, Hentikan Kerakusan Ulat FAW
Seluruh penjelasan detail produk bisa diakses melalui Aplikasi BISI, unduh sekarang. Klik disini.