Mengantisipasi Busuk Batang dan Busuk Pelepah Pada Jagung Manis

Bercocok tanam jagung manis di musim hujan memberikan tantangan tersendiri, terutama terkait intensitas serangan penyakit yang cenderung meningkat. Terlebih yang dipicu oleh infeksi bakteri dan jamur.

“Pada jagung manis, waspadai serangan busuk batang dan busuk pelepah. Utamanya pada lahan dengan sistem irigasi yang kurang bagus atau menggenang,” ujar Hoerussalam, SP., M.Sc., Seed Health Testing Manager, Laboratorium Proteksi Tanaman, Departemen Bioteknologi, PT BISI International, Tbk. (BISI).

Penyakit busuk batang yang dipicu infeksi bakteri Erwinia chrysanthemi (saat ini bernama latin Dickeya dadantii) itu memang menjadi salah satu OPT utama pada tanaman jagung manis. Tingkat kerugian yang ditimbulkannya bisa mencapai 65% pada varietas yang rentan.

Tanaman jagung manis yang terserang busuk batang akan tiba-tiba rebah. Pasalnya, pada bagian pangkal batang yang terinfeksi bakteri menjadi lunak, berlendir, dan berwarna coklat sampai coklat tua. Sementara jaringan tanaman yang terinfeksi akan berbau busuk. Ciri khas penyakit ini adalah bagian batang yang melunak akan terpuntir.

Bakteri tersebut menginfeksi tanaman jagung melalui stomata atau luka yang ada pada daun dan batang. Selain itu,  Dickeya dadantii juga dapat ditularkan melalui benih dari tanaman yang telah terinfeksi.

Sedangkan untuk penyakit busuk pelepah yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani, gejalanya dimulai dari bagian tanaman jagung manis yang paling dekat dengan permukaan tanah. Seiring waktu, gejala serangan yang berupa bercak berwarna putih keabu-abuan itu akan menjalar ke bagian atas tanaman. Pada varietas yang rentan, bercak tersebut bisa mencapai tongkol dan pucuk tanaman.

Pada tingkat serangan lebih lanjut, bercak tersebut akan meluas dan seringkali diikuti oleh pembentukan sklerotium secara tidak beraturan, berwarna putih, kemudian berubah menjadi coklat.

Jamur R. solani mampu bertahan hidup sebagai miselium dan sklerotium pada biji, tanah, dan pada sisa-sisa tanaman di lahan. Jamur akan mudah berkembang pada kondisi tanah yang basah, lembab, dan drainase yang kurang baik.

Antisipasi sejak dini

Antisipasi sejak dini. Itulah langkah awal yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi serangan OPT. “Pemilihan varietas adalah langkah awal yang sangat menentukan. Pilihlah varietas yang tahan jika tersedia, setidaknya yang toleran,” ujar Salam.

Oleh karena itu, lanjut Salam, penggunaan benih yang diproduksi oleh produsen benih yang tersertifikasi, seperti PT BISI International, Tbk., sangat penting. Hal itu untuk memberikan jaminan atas varietas yang digunakan.

“Karena benih yang diproduksi telah melalui serangkaian proses dan persyaratan yang ketat,” terangnya.

Di samping itu, sebaiknya petani juga melakukan monitoring perkembangan hama dan penyakit, serta melakukan pengendalian sedini mungkin. “Kenali permasalahan OPT utama di area yang akan ditanami, beri perlakuan tambahan jika diperlukan, hal itu mungkin belum diantisipasi pada varietas yang akan ditanam,” jelas Salam.

Menurut Salam, penerapan sistem budidaya tanaman yang sehat, yang diintegrasikan dalam teknologi pengelolaan hama dan penyakit tanaman secara terpadu akan memberikan hasil yang lebih baik.

Sementara untuk pengendalian secara kimiawi, penggunaan pestisida yang tepat dan bijaksana bisa menjadi alternatif solusi yang baik. “Untuk mengantisipasi busuk batang Erwinia chrysanthemi bisa menggunakan fungisida Copcide 77WP yang berbahan aktif tembaga hidroksida yang juga bersifat sebagai bakterisida. Sementara untuk Rhizoctonia solani bisa menggunakan fungisida RecorPlus 300EC yang berbahan aktif difenokonazol dan propikonazol,” terang Ali Mashari, Pesticide Product Development PT Multisarana Indotani. (AT)

Baca juga :
Tiga Penyakit Cabai Kala Hujan
Hujan, Paria, dan Kresek
Mengatasi Kutu Sisik Pada Apel
Pencampuran Insektisida yang Tepat
Crumble 100 EC, Hentikan Kerakusan Ulat FAW
Seluruh penjelasan detail produk bisa diakses melalui Aplikasi BISI, unduh sekarang. Klik disini.