Tiga Penyakit Cabai Kala Hujan

Bercocok tanam cabai di tengah musim hujan memang sangat menantang. Yang pasti tingkat serangan penyakit menjadi lebih tinggi, sehingga membutuhkan perhatian ekstra dari para petani. Tiga penyakit ini patut diwaspadai saat tanam cabai di musim hujan, yaitu: patek, layu, dan busuk batang atau buah.

Bagi para petani yang bercocok tanam cabai di musim hujan, ada baiknya mengantisipasi serangan OPT tertentu yang intensitas serangannya cenderung meningkat di musim basah. OPT tersebut antara lain: penyakit patek atau antraknosa, layu, busuk batang, dan busuk buah.

“Serangan jamur patogen Colletotrichum sp. penyebab patek atau bercak antraknosa pada buah cabai akan semakin berat pada musim hujan dan suhu yang hangat,” terang Hoerussalam, SP., M.Sc., Seed Health Testing Manager, Laboratorium Proteksi Tanaman, Departemen Bioteknologi, PT BISI International, Tbk..

Lantaran yang diserang patek adalah bagian buah, baik itu buah muda maupun buah masak, maka tingkat kerugian kehilangan hasilnya cukup tinggi. Bahkan, potensi kerugiannya bisa mencapai 90% saat musim hujan.

OPT lain yang juga perlu diwaspadai saat bercocok tanam cabai di musim hujan adalah penyakit layu, baik itu layu karena bakteri Ralstonia solanacearum maupun jamur Fusarium sp.. “Patogen ini berkembang optimum pada suhu 28-30 0C,” ujar Salam.

Mengingat gejala yang ditimbulkan serupa, yaitu berupa layu yang tiba-tiba pada bagian atas daun dan kemudian akan berubah menjadi kering kecoklatan, lantas bagaimana cara membedakan antara tanaman cabai yang terkena layu bakteri dengan layu fusarium?

Cara sederhananya adalah dengan memotong batang tanaman cabai yang terserang. Apabila hasil potongan itu berlendir dan berbau, serta saat dicelupkan ke dalam air muncul semacam asap putih di dalam air yang merupakan massa bakteri, maka tanaman tersebut bisa dipastikan terserang penyakit layu bakteri. Sebaliknya, apabila setelah dipotong tidak berlendir dan berbau, maka penyebabnya adalah layu jamur.

Menurut Salam, selain itu, ada OPT lain yang juga patut diwaspadai, yaitu penyakit busuk batang dan buah yang dipicu infeksi jamur Phythophthora capsici. “Selain pada tanaman cabai, P. capsici juga banyak menyerang tanaman terung, atau tanaman dari keluarga Solanaceae dan Cucurbitaceae,” terangnya.

P. capsici dikenal sebagai salah satu jamur patogen yang mampu menimbulkan kerusakan parah pada hampir semua bagian tanaman cabai, tidak hanya pada batang dan buah, tapi juga daun. Tidak jarang jamur ini dijuluki sebagai perusak tanaman cabai-cabaian.

Pemilihan Varietas

Antisipasi sejak dini. Itulah langkah awal yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi serangan OPT. “Pemilihan varietas adalah langkah awal yang sangat menentukan. Pilihlah varietas yang tahan jika tersedia, setidaknya yang toleran,” ujar Salam.

Oleh karena itu, lanjut Salam, penggunaan benih yang diproduksi oleh produsen benih yang tersertifikasi, seperti PT BISI International, Tbk., sangat penting. Hal itu untuk memberikan jaminan atas varietas yang digunakan.

“Karena benih yang diproduksi telah melalui serangkaian proses dan persyaratan yang ketat,” terangnya.

Di samping itu, sebaiknya petani juga melakukan monitoring perkembangan hama dan penyakit, serta melakukan pengendalian sedini mungkin. “Kenali permasalahan OPT utama di area yang akan ditanami, beri perlakuan tambahan jika diperlukan, hal itu mungkin belum diantisipasi pada varietas yang akan ditanam,” jelas Salam.

Menurut Salam, penerapan sistem budidaya tanaman yang sehat, yang diintegrasikan dalam teknologi pengelolaan hama dan penyakit tanaman secara terpadu akan memberikan hasil yang lebih baik.

Sementara menurut Andi Wahyono, pemulia tanaman cabai PT BISI, sudah ada beberapa varietas cabai yang bisa dijadikan pilihan para petani untuk bercocok tanam di musim hujan. Bagi yang suka dengan cabai rawit, varietas hibrida Bhaskara bisa menjadi pilihan yang tepat lantaran tahan penyakit layu dan busuk batang.

“Selain lebih cepat panennya, Bhaskara juga tahan penyakit layu bakteri dan layu fusarium. Selain itu juga tahan penyakit busuk batang karena Phytophthora,” terang Andi.

Sedangkan untuk cabai keriting, lanjut Andi, varietas hibrida Trophy 77, IGGO, Flash 750, dan Rimbun 3 sangat pas untuk dijadikan pilihan. Trophy 77, selain agak tahan virus, juga terbukti lebih tahan dari serangan patek. “Tahan layu bakteri, cukup tahan layu Fusarium dan Phytophthora,” lanjutnya.

IGGO, selain tahan layu bakteri dan fusarium, juga toleran penyakit virus. “Demikian juga dengan Flash 750 dan Rimbun 3,” tambah Andi.

Lantas bagaimana dengan cabai besar? Andi mengungkapkan, ada beberapa varietas cabai besar hibrida yang bisa dijadikan pilihan terbaik bagi para petani, yaitu: Columbus, Arimbi 85, dan Elegance. “Ketiga varietas tersebut terbukti tahan layu bakteri dan fusarium. Selain itu juga tahan busuk Phytophthora. Ketahanan pateknya juga cukup bagus,” terangnya.

Pengendalian Sejak Dini

Selain varietas cabai yang tahan, penggunaan pestisida yang tepat juga bisa menjadi alternatif pilihan untuk memberikan perlindungan sejak dini. Menurut Ali Mashari, Pesticide Product Development PT Multi Sarana Indotani (MSI), serangan penyakit layu, baik itu karena bakteri maupun fusarium, bisa diantisipasi sejak dini dengan memberikan kocoran fungisida Copcide 77WP, Magenta 50WP, atau fungisida alami TrichoPlus.

“Copcide dan Magenta bisa dicampurkan sekaligus. Kocor bisa dilakukan saat tanaman berumur dua minggu setelah tanam, dan bisa diulang tiap minggu sampai tanaman berbuah. Sementara untuk Tricho Plus sebaiknya dikocorkan saat tanam atau sebelum tanam,” jelas Ali.

Sementara untuk penyakit patek dan busuk Phytophthora, lanjut Ali, penyemprotan pestisida hanya saat muncul gejala serangan. “Patek bisa menggunakan fungisida Copcide 77WP atau AzoxaPlus 560SC. Sedangkan untuk busuk Phytophthora bisa menggunakan fungisida kontak, seperti Victory 80WP atau Victar 80WP, yang dicampur secara bergantian dengan fungisida sistemik seperti: Orion 50WP, Demorf 500SC, Starmyl 25WP, atau Vidi 750SL,” terangnya. (AT)

Baca juga :
Hujan, Paria, dan Kresek
Mengatasi Kutu Sisik Pada Apel
Mengantisipasi Busuk Batang dan Busuk Pelepah Pada Jagung Manis
Pencampuran Insektisida yang Tepat
Crumble 100 EC, Hentikan Kerakusan Ulat FAW
Seluruh penjelasan detail produk bisa diakses melalui Aplikasi BISI, unduh sekarang. Klik disini.